Headlines News :
Home » » Peran Kyai Abu Mansyur Dalam Pembuatan Aloon-Aloon Tulungagung

Peran Kyai Abu Mansyur Dalam Pembuatan Aloon-Aloon Tulungagung

Written By Hariyanto on Friday, February 3, 2012 | 2:35 PM

Tulungagung, Mataram Timur News-
Kyai Abu Mansyur memiliki peran yang sangat besar terhadap pembangunan aloon-aloon Tulungagung. Semenjak daerah-daerah ketemanggungan digabungkan menjadi satu untuk membentuk kabupaten, maka Kota Ngrowo (dulu Tulungagung bernama kadipaten Ngrowo) membutuhkan tempat kediaman Bupati dan aloon-aloon. Pertama-tama dibangun di Kalangbret kemudian di Ringinpitu, tetapi karena tidak adanya kesatuan pendapat para Tumenggung, maka pembangunan tersebut pada akhirnya mengalami kegagalan.
Guna mengantisipasi hal ini diadakan pelaporan ke Mataram. Dari keraton diperoleh petunjuk atau “ilham” bilamana ingin membangun kota yang mestinya akan dapat langsung berdiri dan menjadi tempat yang ramai dan daerahnya subur, supaya memiliki suatu tempat di sebelah Wajak.
Di situ terdapat sumber air yang besar. Sumber tersebut supaya disumbat dan di atasnya ditanami pohon dari Mataram.

Menurut KH. Drs. R. Qumaruszaman, usaha pembuatan sumber air yang besar itu tidaklah mudah. Oleh karena itu calon Bupati dicari petunjuk dari seorang Kyai Sakti yang bernama Qosim alias Kyai Abu Mansyur. Kyai Abu Mansyur diminta untuk melaksanakan tugas pembangunan aloon-aloon tersebut dan beliau menyanggupinya. Tindakan pertama yang diambil Kyai Abu Mansyur adalah menggunakan tujuh batang pohon beringin dari suatu desa yang sekarang menjadi Desa Ringin Pitu, kemudian dengan seekor kerbau bule sebagai persyaratan lain untuk dipergunakan sebagai seserahan.

Qomaruszaman menjelaskan bantuan secara mistik juga dijalankan ialah dengan meminta kedatangan roh halus yang menurut cerita “Djigangdjojo” dan “Clunthangdjojo”. Untuk membantu penyumbatan air tersebut Djigangdjojo dan Clunthangdjojo ini pada mulanya ditugaskan oleh Kyai Abu Mansyur untuk mencari ijuk di gunung Ngaliman. Dalam waktu singkat ijukpun didapatkan. Setelah perlengkapan dipersiapkan, maka keduanya diperintahkan untuk meletakkan ijuk tersebut di pusat sumber air tersebut. Sedangkan yang disuruh memadatkan sumber itu ialah kerbau bule tadi, dengan cara menginjak-injak dalam waktu cukup lama, kemudian ditanam sebagai seserahan.

Abah Edi Purnomo menambahkan disamping itu juga dibuatkan urung-urung dan saluran yang dapat mengalirkan air yang lewat kali “Jenes” menuju ke sungai Ngrowo air sudah tidak memancar lagi. Bibit pohon beringin yang berasal dari Mataram ditanam oleh masyarakat setempat. Pohon yang tumbuh di tengah aloon-aloon itu diberi nama “Ringin Kurung”.

Pada tahun 1947 ringin besar itu tumbang akibat angin besar. Bahkan menurut cerita, akibat robohnya ringin tersebut Kabupaten Tulungagung sering dilanda banjir.

“Semenjak disumbatnya sumber air yang besar itu lambat laun rawa-rawa menjadi kering dan merupakan daerah subur. Kekeringan rawa-rawa itu berarti pula pertolongan besar bagi masyarakat setempat termasuk Kota Tulungagung yang telah menjadi ramai seperti sekarang” jelasnya. (Har/berbagai sumber)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Mataram Timur News - All Rights Reserved
Wartawan Mataram Timur News Dibekali Kartu Identitas Setiap Peliputannya. Laporkan Oknum Yang Tidak Bertanggung Jawab Yang Mengaku Sebagai Wartawan Mataram Timur News | Original Design by Creating Website Modified by Adiknya