Headlines News :
Home » » Museum Kraton Yogyakarta

Museum Kraton Yogyakarta

Written By Hariyanto on Monday, December 12, 2011 | 10:29 PM

CREW MATARAM TIMUR NEWS
KUNJUNGI MUSEUM KRATON YOGYAKARTA


Yogyakarta, Mataram Timur News
      Crew Mataram Timur News mengunjungi Museum Kraton Yogyakarta. Crew media cetak yang selalu mengangkat sejarah Mataram ini berkunjung ke Museum Kraton Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat peninggalan bersejarah Raja-raja Mataram. Apa hubungan Mataram di Yokyakarta dan Mataram Timur News yang redaksinya di Tulungagung? Berikut laporannya

      Mataram Timur News diambil dari nama Kerajaan besar Mataram di Yogyakarta. Pada zaman Sultan Agung Hanyokro Koesoemo, rakyat hidup tentram gemah ripah loh jinawi. Namun Kerajaan Mataram jatuh karena kedatangan penjajah.
      Pada berakhimya Perang Pangeran Diponegoro, banyak petinggi Kerajaan Mataram atau keturunan raja Mataram melarikan diri ke Pulau Jawa bagian Timur (Jawa Timur) seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Ponorogo, Malang, dll. Mereka menetap di daerah tersebut sampai beranak cucu. Untuk mengenang perjuangan mereka melawan penjajah, maka ini dinamakan Mataram Timur News.
Crew Mataram Timur News mengunjungi Museum Kraton Yogyakarta belum lama ini. Mereka datang untuk mengenal lebih dekat dan mengenang perjuangan mereka dalam mengusir kolonial Belanda. Crew Mataram Timur News diterima dengan ramah oleh pemandu wisata atau Abdi Dalam Kraton Yogyakarta.
      Agung Sardjianto, Dewan Redaksi Mataram Timur News dan rombongan merasa haru melihat dari dekat peninggalan Raja-raja Mataram. Sambutan hangat dari Abdi Dalam dimanfaatkan untuk mengabadikan peninggalan bersejarah ini. "Saya merasa haru melihat peninggalan bersejarah para Raja Mataram. Mudah-mudahan perjuangan mereka melawan penjajah diterima Allah SWT" jelas Agung Sardjianto.
Pemandu wisata atau Abdi Dalam menjelaskan ada 23 kereta peninggalan para Raja Mataram yang berada di Museum Kraton Yogyakarta. Diantaranya adalah Kereta Kyai Jong Wiyat, buatan Belanda pada tahun 1880. Peninggalan Sultan Hamengkubuwono VII. Pada zaman pemerintahan kerajaan, kereta ini digunakan oleh Manggolo Yudo atau Panglima perang. Sedangkan pada tanggal 21 Mei 2002, kereta ini digunakan putri pertama dalam upacara pernikahan putri Sultan Pembayun. Kereta ini ditarik 6 ekor kuda warna putih. Kuda itu disewa dari Kapeleri Bandung. Jadi kereta ini bila sewaktu-waktu keraton ada acara masih bisa digunakan. Masih asli berusia 130 tahun. Kereta ini buatan Den Hag.
      Kereta Kyai Jolo Doro, buatan Belanda tahun 1815, usianya 195 tahun. Peninggalan Hamengkubuwono IV, kereta ini ditarik 2 ekor kuda. Biasa digunakan oleh Panglima perang dalam rangka mengawal pasukan.
      Kereta Kyai Roto Biru, nama sesuai dengan warna, tetapi kereta ini sudah direnovasi, dibuat di Belanda pada tahun 1901 ditarik 6 ekor kuda. Peninggalan Hamengkubuwono VIII. Kereta ini digunakan oleh Manggolo Yudho atau Panglima perang. 8 tahun lalu digunakan untuk Upacara pernikahan. Semuanya dilakukan untuk mengenang Putri Sultan. Kereta ini sudah pernah direnovasi.
Kereta Rejo Pawoko, buatan Belanda pada tahun 1901. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 4 ekor kuda. Digunakan keluarga Raja atau keluarga Sultan. Kereta ini sudah pernah direnovasi.
Kereta Kanjeng Kyai Jimat. Kereta ini yang paling tua dan dikeramatkan setiap bulan Suro, kereta ini dimandikan, airnya jadi rebutan untuk dicari berkahnya.
      Kereta Lan Dower, buatan Belanda pada tahun 1901. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 4 ekor kuda, digunakan oleh Putri Raja. Diambil dari Hotel Ambarukmo.
Kereta Permili, kereta ini buatan Semarang pada tahun 1921. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 4 ekor kuda dan digunakan oleh para penari kraton. Karena itu tempat duduknya banyak.
Kereta Kusno X, buatan Belanda pada tahun 1870. Peninggalan Hamengkubuwono VII, ditarik 4 ekor kuda, digunakan khusus menantu Raja. Setiap Sultan mempunyai menantu, kereta ini keliling kraton seluas 1 km2 untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Di kraton diadakan upacara Grebek, kereta ini digunakan untuk penyebaran Agama Islam. Di sekeliling Museum ada Kistala atau kandang kuda, namun sekarang tinggal dua, itu disebabkan digunakan TNI pada masa perang Jenderal Sudirman.
Kereta Kapulitin, dibuat pada tahun 1921. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 1 ekor kuda atau dibuat delman atau dokar. Biasa digunakan untuk berburu, atapnya dibuka, belakang terlihat tombak.
      Kereta Kutho Raharjo, dibuat di Berlin pada tahun 1927. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 4 ekor kuda. Kereta ini khusus digunakan para istri Raja.
Kereta Kusgading, dibuat pada tahun 1901 di Belanda. Ditarik 4 ekor kuda, peninggalan Hamengkubuwono VIII. Kereta ini digunakan khusus istri Raja.
Kereta Kyai Puspokomanik, dibuat pada tahun 1901 di Belanda. Peninggalan Hamengkubuwono VIII, ditarik 4 ekor kuda, khusus untuk istri Raja. Di Museum ini 40 persen peninggalan Hamengkubuwono VIII. Keberanian Hamengkubuwono VIII menyerang Belanda. Kereta-kereta ini semua pustaka, setiap mau dipakai dilakukan dulu ritual semalam dan sesaji. Pada waktu gempa di Yogyakarta, kereta ini tidak ada yang kena.
      Kereta Nyai Jimat. Kereta ini paling tua dan dikeramatkan. Dibuat pada tahun 1756, setelah Perjanjian Giyanti. Dahulu kraton hanya ada satu di Solo, setelah perjanjian Giyanti, kraton dibelah menjadi dua. Yogyakarta dijadikan daerah istimewa. Kereta ini buatan Belanda pada tahun 1750, usianya 273 tahun, peninggalan Hamengkubuwono I, digunakan Hamengkubuwono I sampai dengan Hamengkubuwono V. kereta ini ditarik 8 ekor kuda-kuda warna putih. Kereta ini digunakan penobatan atau pelantikan Raja, setiap 1 tahun sekali di bulan Suro dimandikan, air mandi itu menjadi rebutan masyarakat untuk mendapat berkah.
      Kereta Kyai Mondo Juwito, buatan Inggris, dibuat pada tahun 1800. Peninggalan Hamengkubuwono III, ayah Pangeran Diponegoro. Kereta ini pernah dipakai perang melawan Belanda pada tahun 1825 sampai dengan 1830. Kereta Anti peluru ini pada saat dipakai dipakai Pangeran Diponegoro.
      Kereta Garuda Yekso atau kereta Kencana, kereta ini berlapis emas murni 18 karat. Buatan Belanda pada tahun 1861. Kereta ini peninggalan Hamengkubuwono VI, ditarik 8 ekor kuda warna putih. Kereta ini digunakan untuk penobatan Raja mulai Hamengkbuono VI sampai dengan sekarang. Sejak penobatan Raja satu, kereta ini tidak boleh didampingi istri atau permaisuri, itu sudah ada pendamping setianya. Hanya orang-orang biasa tidak bisa melihat.
      Kereta Kyai Manik Retno, kereta ini ditarik 12 ekor kuda dan digunakan untuk pesiar atau jalan-jalan. Kereta Rota Praloyo. Rota artinya kereta sedangkan Praloyo artinya meninggal, jadi kereta ini adalah kereta jenazah. Buatan Yogyakarta pada tahun 1938. Kereta termuda ini peninggalan Hamengkubuwono VIII. Baru 2 kali dipakai pada saat meninggalnya Hamengkubuwono VIII dan Hamengkubuwono IX, ditarik 8 ekor kuda. Dari kraton ke makam Imogiri ± 20 km2 dan semua pengawal jalan kaki.
      Kereta Kyai Jetayu. Dibuat pada tahun 1931, peninggalan Hamengkubuwono VIII di Yogyakarta. Biasa digunakan oleh putri Raja ditarik 4 ekor kuda. Open Cup yaitu kalau lihat pacuan kuda langsung, terbuka atapnya.
Kereta Harsunogo, kereta ini buatan Belanda pada tahun 1870, peninggalan Hamengkubuwono VI, ditarik 4 ekor kuda. Biasa digunakan para Pangeran atau putra Raja dari anak selir yang tidak bisa sebagai raja.
      Kereta Wibowo Putro, kereta ini buatan Belanda pada tahun 1860, peninggalan Hamengkubuwono VI, ditarik 6 ekor kuda. Digunakan sesuai simbolnya, khusus untuk putra mahkota.




      Kereta Landower Wisman, kereta ini berwama merah, yang hitam Landower ketiga. Kereta ini buatan Belanda, peninggalan Hamengkubuwono VIII, ketiga kereta sedang direnovasi. Digunakan bila ada tamu dari mancanegara. Kereta ini untuk antar jemput, karena tidak AC maka kereta ini bisa dibuka dan kereta ini juga untuk putra putri Raja.
      Kereta Loto Puro, kereta ini buatan Belanda pada tahun 1870. Peninggalan Hamengkubuwono VII dan ditarik oleh 6 ekor kuda. Biasanya digunakan oleh Manggolo Yudho atau panglima perang.
Setelah menjelaskan semua kereta yang berada di Museum Kraton Yogyakarta ini, Crew Mataram Timur News melihat-lihat foto Raja-raja dan ke koperasi Kerajaan, Hamengkubuwono I dan Hamengkubuwono III tidak ada fotonya. "Menurut kepercayaan dahulu, kalau diambil fotonya berkurang umurnya,"jelas Abdi Dalem kepada Crew Mataram Timur News. (Crew)
Share this article :

1 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Mataram Timur News - All Rights Reserved
Wartawan Mataram Timur News Dibekali Kartu Identitas Setiap Peliputannya. Laporkan Oknum Yang Tidak Bertanggung Jawab Yang Mengaku Sebagai Wartawan Mataram Timur News | Original Design by Creating Website Modified by Adiknya